4 Hal Keliru dari Suporter Sepakbola Indonesia

Dr. Sigmund Freud, sosok pionir ilmu psikoanalisis, menjelaskan tentang kekuatan alam bawah sadar. Sebagai manusia, anda memiliki berbagai keinginan yang tertanam, baik secara langsung ataupun tidak langsung. Kebanyakan kemauan kita yang berasal dari alam bawah sadar ialah keinginan yang tidak dapat diisi ketika anda dalam suasana sadar atau terjaga.

Menurut keterangan dari Freud, kemauan alam bawah sadar ini umumnya ialah keinginan yang sehubungan dengan seks. Beberapa hal lain juga diperlihatkan pada anak kecil yang senang menghisap ibu jari mereka. Dalam sepakbola, kemauan alam bawah sadar dapat dipelopori oleh sesuatu yang disaksikan secara berulang-ulang, nyanyian-nyanyian yang didengar dan juga dinyanyikan, hingga sesuatu yang dibaca secara umum.

Misalnya saja, untuk anak-anak yang sering menyaksikan Cristiano Ronaldo bermain akan ingin meniru gaya pesepakbola asal Portugal tersebut. 2 hal yang sangat umum ialah gaya saat hendak mengambil bola mati serta gaya selebrasi golnya. Disadari atau tidak, benak ini telah tercetak di dalam mindset seseorang.

Rivalitas yang tertanam di alam bawah sadar

Bagi sejumlah fans klub, nyanyian suporter juga dapat menanamkan benak di alam bawah sadar seseorang yang mendengarnya. Seperti untuk bobotoh Persib Bandung, nyanyian “The Jak anjng, dibunuh saja,” seolah menjadi ucapan-ucapan yang pada tadinya dimaksudkan untuk mengurangi mental The Jak (sebutan untuk fans Persija Jakarta) dan tim Persija.

Namun, nyanyian yang terus diulang-ulang ini, lagipula jika telah didengarkan semenjak anak-anak, bakal tertanam di benak alam bawah sadarnya. Pada situasi normal sehari-hari, barangkali isi nyanyian ini tidak bakal terealisasikan sebab berbenturan dengan norma yang terdapat (hukum negara dan adat tentang larangan membunuh). Tapi pada situasi khusus, laksana di stadion atau sedang bareng gerombolan suporter lain, isi nyanyian ini telah tertanam di alam bawah sadar sampai-sampai mereka laksana refleks saja untuk melakukannya.

Bukan melulu soal menyokong (support), format negatif dari nyanyian yang tersiar dan tersuarakan ini juga dapat dicermati dari nyanyian atau perkataan “wasit golok” atau peristiwa pelemparan botol. Berdasarkan keterangan dari psikoanalisis, kemauan ini memang terpendam dan seringnya tidak mendapat peluang untuk hadir ke permukaan. Seseorang yang sadar dan rasional tak bakal sembarangan untuk memuaskan kemauan alam bawah sadarnya sebab adanya rambu-rambu hukum sosial. Oleh sebab itu, persoalan suporter sepakbola ini ialah permasalahan sosial yang telah ditanamkan semenjak kecil, banyak sekali secara tidak langsung, melewati alam bawah sadar mereka.

Mudah menyamaratakan

Masalah berikutnya dari supporter sepakbola ialah terlalu gampang menggeneralisasi. Salah satu aspek dari generalisasi ialah penyamarataan. Dalam gejala suporter sepakbola, kita dapat menemuinya masing-masing saat, contohnya pada pengakuan “seluruh orang Jawa Barat ialah bobotoh Persib”. Padahal, generalisasi ini dapat jadi merupakan yang paling keliru.

Immanuel Kant, seorang filsuf Jerman, mengasingkan jenis pengakuan menjadi dua, yakni analitik dan sintetik. Pernyataan analitik ialah pernyataan yang benar secara definisi. “Persib ialah kesebelasan yang terdapat di Jawa Barat” ialah pernyataan analitik meskipun, misalnya, Persib tidak boleh melangsungkan pertandingan di Jawa Barat dan mesti pindah kandang ke luar Jawa Barat. Sementara itu, pengakuan “Mayoritas suporter Persib ialah orang Jawa Barat” adalah pernyataan sintetik. Pernyataan tersebut meningkatkan informasi yang anda ketahui mengenai sepakbola, namun tidak menjadi sesuatu yang pasti, sebab “orang Jawa Barat” bukan unsur dari pengertian “Persib”.

Masalahnya, generalisasi menciptakan seolah semua orang di Jawa Barat ialah pendukung Persib. Padahal tidak seluruh orang Jawa Barat suka Persib, bahkan besar kemungkinannya terdapat orang Jawa Barat yang menyenangi Persija (rival Persib). Hal ini tidak jarang terjadi saat pendukung sedang bergerombol, tidak melulu di stadion saat menonton sepakbola. Misalnya saat bobotoh bertemu mobil berplat B (Jakarta), mereka seringkali mudah untuk men general kan kejadian itu dengan suatu kesimpulan: seisi mobil tersebut ialah suporter Persija.

Pembenaran yang berkelompok

Dari tadi, hal-hal banyak sekali menjadi buruk saat suporter sedang dalam gerombolan atau berkelompok bareng suporter-suporter lainnya. Kembali menurut keterangan dari Freud, desakan bawaan yang mempunyai sifat naluriah dari insan pada umumnya mempunyai sifat destruktif. Hal berikut yang mengakibatkan para suporter laksana mempunyai hobi bareng ketika mereka bergabung bareng pendukung yang berasal dari tim yang sama, seolah apa yang mereka kerjakan mendapatkan pembenaran karena tidak sedikit yang melakukannya juga.

Sebenarnya andai dicampurkan ke alam bawah sadar, perilaku destruktif ini tidak melulu terjadi pada satu kumpulan yang berciri sama secara langsung, tapi dapat juga secara tidak langsung. Contoh umum dari hal tersebut ialah perilaku melanggar berjamaah laksana tidak menggunakan helm, berhenti di zebra cross, dan melemparkan sampah sembarangan. Para pelanggar melakukannya sebab mengetahui bahwa mereka tidak sendirian. Dalam permasalahan berkelompok laksana ini, kesadaran dapat menjadi bias sebab sudah terakumulasi menjadi kebiasaan.

Tidak dapat membedakan “lawan” dengan “musuh”

Sepakbola ialah olahraga beregu. Bahkan untuk suporter sepakbola pun demikian. Maka dari itu, sepakbola sebetulnya mengajarkan bahwa kita manusia sebenarnya saling membutuhkan, di manapun kubu anda berada. Jean-Paul Sartre, filsuf dari Prancis, pernah berkata: “Di dalam dunia sepakbola, semua hal dibuat menjadi lebih rumit dengan adanya tim lawan.”

Sartre memakai istilah “kesebelasan lawan” (opposite team), bukan “kesebelasan musuh” (the enemy team). Tentunya “musuh” dan “lawan” ialah 2 hal yang berbeda. Dalam suatu pertandingan, anda akan menemukan “Persib melawan Persija”, bukan “Persib memusuhi Persija”. Sebagai lawan, satu sama lain jangan dan tidak dapat saling memusnahkan. Sepakbola hanya dapat dimainkan oleh dua tim yang bertanding. “Lawan” ialah prasyarat mutlak untuk bermain sepakbola. Tanpa “lawan”, tidak bakal ada pertandingan.

Jika kriteria tersebut dimusnahkan, andai lawan dimusnahkan, maka tak bakal pernah terdapat pertandingan, tak bakal pernah terdapat sepakbola. Hal ini yang seharusnya tertanam di alam bawah sadar suporter sepakbola semenjak anak-anak. Lagipula, misalkan ada pembenaran dari nyanyian fans persib tersebut andai The Jak mesti dimusnahkan, apakah jika Fans Persija dan Persijanya musnah, lantas Persib dapat berjaya dan menjadi juara?

Tanpa adanya Persija sebagai “lawan”, dapat jadi Persib tidak bakal pernah ada. Atau kalaupun ada, makna untuk mendukung Persib tidak bakal sempurna tanpa keberadaan Persija sebagai musuh. Terkadang apa yang anda lihat dan dengar ialah hal-hal yang tidak mempunyai makna yang positif yang telah tertanam di alam bawah sadar kita, jadinya hal itu tidak butuh lagi dilakukan, lagipula kepada anak-anak yang tidak tahu apa-apa.

Berikutnya, penyamarataan pun tidak dapat dibiarkan terus terjadi. Seorang fans yang baik ialah yang dapat membedakan 3 hal, yakni kawan, lawan, dan netral (termasuk pihak yang tidak tahu apa-apa) yang tidak dapat diputuskan secara sepihak, tetapi secara konfirmatif dan sarat kehati-hatian. Sebagai makhluk sosial, fans sepakbola pun sama seperti semua pesepakbola yg mereka dukung, yaitu memerlukan satu sama beda dan bergerak berkelompok. Tapi hal tersebut tidak kemudian menjadikan apa yang dilaksanakan secara berkelompok ialah perilaku yang sudah tentu benar, sampai-sampai suporter yang berkelompok pun tetap mesti mematuhi rambu-rambu hukum sosial.

Kemudian dalam sebuah artikel disini, malah dengan berkelompok tersebut yang menunjukkan bahwa kita saling membutuhkan. Begitu pun dengan lawan. Lawan bukanlah musuh yang boleh atau dapat dimusnahkan. Lawan ialah syarat sah bakal terjadinya pertandingan sepakbola, maka dari itu kita semua memerlukan lawan. Jika masing-masing suporter sudah dapat memahami 4 hal di atas dan ditanamkan sejak kecil untuk generasi selanjutnya, maka kita seluruh bisa berbaikan untuk lantas merasakan dan menyaksikan keagungan sepakbola dengan berjamaah. Lihat uraian lainnya di https://agenbola.io/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *